Bos Lion Air Rusdi Kirana: Lion Terkenal Delay, Justru Menjadi Ajang Promosi Lion Pada Publik

96

PILARBANGSA.COM, Jakarta – Karni Ilyas, pembawa acara Indonesia Lawyers Club(ILC) TVOne mengaku pernah berbincang dengan pemilik maskapai Lion Air, Rusdi Kirana.

Menurut Karni, perbincangan saat itu membahas soal delay yang kerap terjadi di jadwal penerbangan Lion Air.

Karni kemudian menceritakan kembali perbincangannya dengan Rusdi Kirana dalam acara ILC pada Selasa (30/10/2018) malam.

Awalnya, pengamat penerbangan, Ruth Hanna Simatupang, menyampaikan protesnya ke maskapai Lion Air perihal tingginya catatan delay.

Bahkan, menurut Ruth, maskapai berlogo singa merah itu mungkin hanya bisa memberangkatkan satu penerbangan dengan tepat waktu.

Sementara Lion Air memiliki jadwal dan rute penerbangan yang cukup banyak.

Namun, antara rute dan jadwal penerbangan itu sama banyaknya dengan tingginya jumlah delay.

“Lion Air ini banyak sekali rutenya dan banyak sekali jam penerbangannya. Tapi pada kenyataannya yang bisa betul-betul jalan dalam satu penerbangan itu mungkin hanya satu. Karena yang lainnya itu delay,” kata Ruth di acara ILC TVOnepada Selasa (30/10/2018) malam.

Tak hanya itu, Ruth juga menyebutkan bahwa tahun ini, Lion Air memiliki catatan delay terburuk.

Atas dasar itulah dia meminta kepada pihak terkait untuk menindak tegas maskapai tersebut. Sebab, menurut Ruth, itu menyangkut keselamatan penumpang.

“Dan tahun ini, catatan delay JT Lion Air itu terburuk. Ini peran DOT-nya kan. Harusnya bagaimana kalau sudah banyak delay. Apakah perlu dikasih surat sentilan lagi? Atau udah dijewer? Karena ini menyangkut keselamatan,” tegasnya.

Menanggapi pernyataan Ruth soal delay, Karni pun teringat pada obrolannya dengan pemilik Lion Air, Rusdi Kirana.

Karni mengaku pernah bertanya ke Rusdi terkait banyaknya delay yang terjadi pada Lion Air.

Hingga beberapa waktu lalu, sebut Karni, sempat ada demo besar-besaran oleh para penumpang di bandara. Mereka memprotes Lion Air soal delay.

Karni pun mengaku pernah menanyakan soal demo tersebut kepada Rusdi Kirana. Dan Rusdi, kata Karni, memberikan jawaban yang membuatnya terkejut.

Kepada Karni Rusdi mengatakan, protes soal delay yang dilakukan penumpang justru jadi ajang promosi Lion Air.

Karena hal tersebut, maskapai Lion Air jadi terkenal.

“Saya pernah ngobrol sama pemiliknya (Lion Air), Rusdi (Rusdi Kirana). Dia bilang (soal banyaknya protes karena delay) ‘wah itu malah bikin Lion Air tambah terkenal pak Karni, promosi bagi kami itu tuh.’ Dia jawabnya begitu,” tutur Karni.

Mendengar pernyataan Rusdi yang disampaikan oleh Karni tersebut, Ruth pun langsung melontarkan protesnya. Menurutnya, promosi yang semacam itu tidaklah baik.

Karena hal tersebut, lanjut Ruth, catatan penerbangan Indonesia menjadi buruk.

Padahal, menurut Ruth, catatan penerbangan Indonesia sudah membaik.

“Ini menurut saya bukan suatu pemasaran yang positif. Tapi jelek. Kita ini kan dinilai terus ya sama ICO. Setiap ada kecelakaan, ada delay, itu semua tercatat di ICO. Gimana kita bisa masuk ke dewan ICO kalau catatan kita merah,” protesnya.

Tak soal delay dan ajang promosi, Karni juga mengungkap penuturan Rusdi Kirana soal maskapai penerbangan.

Karni menceritakan, dulu Rusdi pernah menyampaikan pendapat kepada pihak Amerika Serikat bahwa maskapai miliknya memang buruk.

Namun, menurutnya, masyarakat tidak punya pilihan lain. Akhirnya, masyarakat tetap memilih menggunakan maskapai Lion Air.

“Penerbangan kami ini yang terburuk, tapi Anda nggak punya pilihan, harus naik Lion Air,” tutur Karni menirukan ucapan Rusdi Kirana.

Simak selengkapnya di video berikut:

Pernyataan Rusdi Kirana soal Lion Air maskapai terburuk juga tertulis dalam wawancara oleh wartawati majalah Angkasa, Reni Rohmawati, beberapa tahun lalu. Petikan wawancara tersebut pernah dimuat di majalah Intisari edisi Desember 2013 dengan judul ‘Rusdi Kirana: Sosok Misteri – Who Makes People Fly‘.

“Bagaimana Anda berbisnis?” tanya pewawancara kepada Rusdi saat itu. Dan pemilik Lion Air itu menjawab:

Saya tak mau berdebat soal menipu atau tak menipu. Kalau memang saya menipu, tuntut saja ke pengadilan. Dalam negosiasi itu, kamu setuju saya setuju, kamu untung saya untung, atau kamu rugi saya untung.

Saya beli pesawat lebih mahal, yang bodoh saya. Tentang Boeing, saya dapat harga yang bagus karena saya berani ambil pesawat yang belum dibikin. Kemudian, kita berhasil. Itu kembali ke kejelian.

Dulu, di Indonesia, pakai B737-200 karena gampang pilotnya, teknisinya. Saya ambil MD-82 dengan 168 penumpang, lebih banyak 40 seat dari pesawat itu. Ini out of the box.

Di bisnis itu, apa yang kita dapat bukannya apa yang bisa kita dapat. Itu adalah hasil negosiasi kita dan kerja keras. Ini bicara kerja kemanusiaan ya, bukan ketuhanan.

Saya sekarang kerja santai karena kita bisa buat orang bekerja dengan sistem dan kepercayaan. Mereka percaya bahwa mereka tak akan ditinggalkan oleh Rusdi. Kita timbulkan loyalitas.

Dan saya misterius, wajar orang ingin tahu. Saya dapat e-mail dari berita di Washington Post. Di sana ditulis tentang saya ‘… an airlines who domain Indonesia’s domestic market run by unnamed.’ Saya dianggap orang misterius. Saya juga disebut psycho businessman. Padahal, saya tidak pemalu.

(Rusdi kemudian cerita sewaktu diminta bicara di Washington University untuk program MBA-nya karena salah seorang anaknya sekolah di sana)

Saya ditanya, di-compare dengan airlines di Amerika, Lion Air seperti yang mana? Saya bilang, tak ada. Airlines saya adalah yang terburuk di dunia. My airlines is the worst in the world, but you have no choice. Makanya, ada yang bilang, Lion Air dibenci, tapi dirindu.

Baca wawancara selengkapnya di sini

Sumber: JurnalIndonesia

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here