Habis Ayu Azhari, Terbitlah Paha Mulus

7970

PILARBANGSA.COM, Jawa Timur – Abdullah Azwar Anas mendadak mundur dari pencalonan sebagai Cawagub Jatim pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Mundurnya Anas diselingi kabar-kabar kurang sedap. Surat pengunduran diri dikirimkan Anas ke Dewan Pimpinan Pusat PDIP pada Sabtu pagi, 6 Januari 2018. DPP dikabarkan langsung menggelar rapat dadakan di Jakarta.

Diberitakan, Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menangis saat mengetahui jagoannya diserang kampanye hitam. Tidak cuma itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto juga menangis saat memberi keterangan di hadapan awak media. PDIP tak menyangka, pencalonan Anas dijegal. Serangan kampanye hitam disebut Hasto merusak kompetisi sehat yang seharusnya dibangun dalam Pilkada. PDIP ditegaskan Hasto tetap memberikan dukungan kepada Anas.

Hasto mengatakan serangan kampanye hitam ini tidak bisa mengesampingkan prestasi Anas sebagai bupati Banyuwangi. Anas dinilai berhasil membawa perubahan di Banyuwangi.

“Kabupaten yang dulu tidak diperhitungkan, sekarang tiba-tiba berubah dengan cepat, rakyatnya hidupnya lebih baik. Tapi kemudian hanya karena kekuasaan lalu ada yang menggunakan cara-cara keji meskipun kami tidak percaya terhadap foto-foto yang beredar itu. Kami melihat dalam keseharian, pengenalan kami kepada Pak Azwar Anas, bahwa dia orang baik, dia orang jujur,” tuturnya.

Menurut Hasto, pengembalian mandat pencalonan cawagub Anas sudah dibahas dalam pertemuan dengan Megawati. Tapi PDIP belum memutuskan pengganti Anas. “Secara resmi kami memang menerima itu, tetapi kami belum memikirkan, memutuskan siapa yang akan menjadi pengganti Azwar Anas,” imbuhnya.

Alasan Anas mundur karena diduga beredar foto mirip dirinya. Ada dua foto yang salah satunya menampakkan pria tanpa celana. Di tangan kirinya tampak memegang sebuah power bank. Latar foto itu diduga di sebuah kamar. Kemudian foto kedua, tampak pria mirip Anas sedang berada di dalam mobil dengan menggunakan kaus berawarna biru tua. Di dalam mobil itu juga tampak ada diduga sebuah kaki wanita dengan paha mulus yang sedang menumpangkan kakinya ke perut pria di foto itu.

Mantan anggota MPR termuda periode 1997-1999 itu menganggap beredarnya foto merupakan proses pembunuhan karakter terkait polemik pencalonan pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jatim. Ada sejumlah upaya pembunuhan karakter, termasuk teror yang kerap diterima Anas dan keluarganya.

“Jadi terkait desus-desus itu, saya sudah biasa. Perlakuan yang sama persis seperti ini sudah saya terima sejak tahun kedua menjabat ketika saya menerapkan sejumlah kebijakan,” ujarnya, Jumat (5/1/2017).

Anas juga mengaku dirinya dikirimi “gambar-gambar di masa lalu”. “Saya juga dikirimi macam-macam gambar di masa lalu untuk mencegah saya mengambil kebijakan-kebijakan tertentu. Tapi kan saya tetap lanjutkan apa yang baik bagi orang banyak. Bahkan saya dilaporkan melakukan kriminalisasi kebijakan karena kebijakan-kebijakan tersebut,” sebutnya.

Anas mengatakan bahwa untuk membangun daerah bukan suatu hal yang mudah. Dia merasa banyak halangan. Anas mencontohkan program Rantang Kasih yang memberi makanan bergizi tiap hari ke lansia. Menurutnya, program itu pemberianuang saku tiap hari bagi pelajar miskin.

Anas menyebutkan program-program ekonomi kerakyatan yang diambilnya telah berhasil meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016 atau ada kenaikan 99 persen. Angka kemiskinan pun disebutnya menurun cukup pesat menjadi 8,79 persen pada 2016, jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang menembus dua digit.

Produk domestik regional bruto naik 104 persen dari Rp 32,46 triliun menjadi Rp 66,34 triliun. Banyuwangi juga terus menjadi daerah dengan inflasi terendah se-Jatim. “Kita kan juga sudah punya Mal Pelayanan Publik yang mengintegrasikan ratusan izin dan dokumen di satu tempat yang transparan, tanpa pungli,” ungkapnya.

Sebenarnya bukan sekali ini saja Anas mendapat serangan kampanye hitam. Menjelang Pilkada Banyuwangi 2015 silam, dia juga pernah diisukan menikah siri dengan artis senior Ayu Azhari.

Artis Ayu Azhari mengaku telah menikah siri dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Saat itu berita nikah siri Anas dan Ayu ditulis tabloid lokal Banyuwangi ‘Suksesi’. Disebutkan, artis yang sudah menikah tiga kali itu mengaku telah menikah siri saat menghadiri diskusi dengan Forum Klarifikasi Ulama dan Tokoh Banyuwangi (FKUTB). Istri vokalis White Lion,  Mike Tramp, ini terang-terangan mengaku jatuh cinta dengan keindahan alam dan kearifan lokal masyarakat Banyuwangi, hingga dia berinisiatif membuat film Barong Gandrung yang bekerjasama dengan Pemkab Banyuwangi dalam hal seni dan budaya.

Sejak itu Pemkab Banyuwangi kerap kali melibatkan Ayu dalam ajang festival. Ayu sempat terlibat Festival Batik yang digelar Pemkab Banyuwangi pada September 2014. Saat itu Ayu mengenakan Bupati Anas kepada desainer batik Priscilla Saputro. Dari sinilah isu nikah siri muncul. Pemberitaan seputar nikah siri itu cukup menyebar dan sempat hilang seiring dengan berakhirnya Pilkada di mana Anas memenangkan Pilkada periode kedua di Kabupaten Banyuwangi.

Ya habis Ayu Azhari, terbitlah paha mulus. Mesin pencari google ketika diketik Abdullah Azwar Anas, maka akan muncul banyak foto-foto mesra Anas dengan wanita yang jelas bukan istrinya. Foto-foto “panas” itu dipastikan bisa menjadi modal dari pihak lawan politik untuk menjatuhkan pasangan Gus Ipul-Anas.

Ribut Penyebar Kampanye Hitam

Banyak kalangan menilai proses Pilkada Jatim telah dicederai dengan hadirnya isu-isu tidak beretika. Kampanye hitam muncul menandakan bahwa praktik berdemokrasi sedang tidak sehat dan jauh dari keadaban politik.

Pihak PDIP sendiri mengaku sudah mengantongi identitas penyebar foto-foto Azwar Anas. Hal itu disampaikan ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira. “Itu kan isu lama, dipakai saat ini, oleh siapa dan bagaimana menyebarkannya, kita sudah tahu itu siapa,” katanya.

Sementara Hasto mengingatkan dalam alam politik kekuasaan menang-menangan yang sering diterapkan “pihak sana”, pihak yang memuja kekuasaan, dan dengan demikian melupakan etika dan moral. Bahkan ada kecenderungan menghalalkan segala cara.

Menurut dia, pasangan calon yang telah dipilih partainya memiliki potensi menang. “Tentu saja secara sengaja dan sistematis dicoba diturunkan elektabilitasnya. Isu yang sering dipakai adalah masalah moral, melalui rekayasa pelanggaran moral, isu korupsi, dan berbagai isu lainnya termasuk ujaran kebencian dan memecah belah antara calon dan parpol pengusungnya,” tuturnya.

Hasto menilai, begitu kerasnya upaya pihak-pihak manapun yang melakukan kampanye hitam yang mengorbankan aspek etika agar benih-benih generasi muda yang mempunyai kepemimpinan sangat baik dapat dipatahkan di tengah jalan. Karena itulah PDIP tetap kokoh memberikan dukungan moral kepada Azwar Anas.

“Kami memberikan dukungan sepenuhnya, bahwa yang namanya Abdullah Azwar Anas adalah sebuah korban dari politik yang liberal itu,” terangnya.

Atas berbagai dinamika tersebut Hasto meminta seluruh pasangan calon yang diusul PDIP untuk tetap teguh pada jalan kepemimpinan untuk rakyat. “Perubahan hanya bisa terjadi melalui force majure, misal calon berhalangan tetap, atau mengundurkan diri karena tidak diizinkan oleh keluarga dekatnya, atau karena kepentingan yang lebih besar sebelum batas akhir pendaftaran,” tuturnya.

Pernyataan Hasto ini langsung memancing banyak reaksi keras dari berbagai pihak. Salah satunya dari Aliansi Relawan Khofifah Jawa Timur (Arek Jatim).

Koordinator Arek Jatim Robin Rohmana mengatakan pihaknya menilai pernyataan Hasto telah merusak tradisi politik di Jatim dan berpotensi memecah belah masyarakat, khususnya masyarakat Nahdliyin di Jawa Timur.

“Kultur politik di Jawa Timur selalu mengedepankan tabayyun dan supremasi hukum. Jadi jika muncul suatu permasalahan jangan main tuduh tanpa dasar. Ini justru semakin memperkeruh suasana politik di Jatim,” kata Robin, Sabtu (6/1/2018).

Arek Jatim menyayangkan pernyataan Hasto yang dinilai gegabah dan sembrono. “Pernyataan itu dapat memicu konflik dari banyak pihak terutama partai politik diluar koalisi PKB dan PDIP,” imbuhnya.

Robin menjelaskan, demokrasi yang baik, santun dan beradab harus dibangun dengan cara-cara yang baik pula. Demokrasi yang baik harus menjaga situasi agar kondusif, tidak gaduh, tidak saling serang, adu program dan mengedepankan visi misi, termasuk kampanye positif dan edukatif.

“Semua bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur adalah kader-kader terbaik Jawa Timur dan NU, kami juga sangat menyayangkan cara cara culas, di antaranya fitnah, kampanye hitam, politik uang, menyerang pihak lain, yang menodai demokrasi. Itu semua melanggar undang undang dan etika politik,” jelas Robin.

Robin berharap polisi dan Bawaslu mengusut penyebar foto asusila yang diduga sebagai Bacawagub Azwar Anas. Tak hanya itu Arek Jatim juga mengajak semua masyarakat Jatim juga terlibat aktif untuk menjaga kekondusifan pesta demokrasi di Jawa Timur. “Kami berharap Jawa Timur menjadi barometer nasional dalam penyelenggaraan pesta demokrasi yang baik dan beradab. Oleh karena itu kesantunan politik yang mengedukasi sangat kami junjung tinggi,” pungkasnya.

Terpisah, sahabat Khofifah, H Ali Azhar, mengaku kaget membaca pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di media massa, bahwa mundurnya Azwar Anas dari pencalonan wakil gubernur Jatim merupakan skenario politik pihak lawan yang disebutnya ‘pihak sana’.

“Hati-hati bicara. Menuding pihak lawan atau pihak sana, itu sama artinya mengatakan pasangan Khofifah-Emil, karena hanya ada pasangan ini sekarang. Ini Jawa Timur, Bung. Ingat yang berangkat sama-sama kader NU, jangan gunakan politik fitnah, ditertawai orang,” jelas Gus Ali.

Tudingan Hasto dinilai Gus Ali sangat tidak masuk akal. Pihaknya justru kasihan sama Azwar Anas. Kalau benar, sekali lagi, kalau benar dia mundur atau terpaksa harus mundur, jelas ini korban arogansi politisi dalam mencari alibi.

“Terlalu mahal ‘ongkos’ yang harus dia bayar. Dia dikorbankan. Ibarat lagu ‘Kau yang Memulai, Kau yang Mengakhiri’, tetapi ‘Orang Lain Kau Suruh Mengakui’. Jahat sekali,” imbuh Gus Ali.

Ditambahkan pengusaha properti ini, modus politik seperti ini tidak semua orang mampu memahami. “Tetapi saya yakin, tidak terlalu sulit bagi politisi santri untuk mengendus apa sesungguhnya yang terjadi,” tutupnya.

Dua Nama Disiapkan

 Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) menolak dicalonkan sebagai pengganti Azwar Anas yang telah mengembalikan mandat sebagai Bacawagub Jatim mendampingi Saifullah Yusuf pada Pilgub Jatim 2018.

Menurut Risma, keputusannya ini sudah bulat sejak beberapa tahun lalu. Perempuan 55 tahun itu menegaskan kembali keinginannya untuk merampungkan tugas dan pekerjannya sebagai Wali Kota Surabaya meski sejak awal pun, ia pernah digadang menjadi cagub pada Pilkada DKI Jakarta. Risma bahkan mengaku sudah menyampaikan itu kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Karena Risma sudah menyatakan penolakannya, maka DPP PDIP sudah menyiapkan sejumlah nama untuk pengganti Anas. Disampaikan Ketua Dewan Pengurus Daerah PDIP Jawa Timur Kusnadi, pihaknya kini sedang berkoordinasi dengan para pengurus partai. Setidaknya ada tiga nama kader PDIP Jawa Timur yang disiapkan menjadi pengganti Anas.

“Menurut saya, ada beberapa personel DPD Jatim yang mungkin pas menggantikan Pak Anas,” ujar Kusnadi, di kantor DPD PDIP Jawa Timur, Sabtu, (6/1/2018).

Kedua nama itu adalah Bupati Ngawi Budi ‘Kanang’ Sulistyono, dan anggota DPR RI daerah pemilihan Madura, Said Abdullah. Disebut Kusnadi, nama-nama tersebut dinilai yang paling memungkinkan untuk diajukan dengan beberapa pertimbangan.

Misalnya Bupati Ngawi Kanang, dia dianggap sebagai kader dengan figur yang mewakili kedaerahan. Sebab pihaknya mencari figur yang punya representasi kewilayahan. Dan, Bupati Ngawi merupakan representansi dari wilayah Mataraman. Sementara Said Abdullah dinilai potensial karena mewakili suara warga di Pulau Madura. Menurutnya pemilih dari Madura ini suaranya sekitar 30 persen untuk Pilkada Jatim.

Meski kader PDIP tersebut sama-sama berpeluang. Namun elektabilitas dan popularitas keduanya sebenarnya lebih tinggi dari Risma. Bahkan Risma sendiri lebih tinggi dibanding Anas. “Itu kalau masyarakat Surabaya rela dan Bu Risma mau, memang yang paling pas Bu Risma,” terangnya.[NN/red]

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here