Hanya Kiyai dan Ulama yang Wajib Pilih Kiyai Ma’ruf

287

PILARBANGSA.COM, Jakarta – Belum lama ini, ada pertemuan para ulama pendukung Kiyai Ma’ruf Amin (KMA) yang mengeluarkan fatwa yang berbunyi “wajib mendukung Kiyai Ma’ruf Amin di pilpres 2019”. Tersiarlah berita tentang keputusan majelis silaturahim 500 ulama yang berlangsung di Ponpes Ashshidiqiyah di Jakarta Barat itu. Keputusan ini disebut Ittifaqul Ulama.

Berita tentang “wajib mendukung Ma’ruf Amin” itu kemudian membuat sebagian orang terkejut. Bahkan ada yang bingung. Padahal, kalau dibaca dengan saksama isi laporan-laporan media tentang ittifaq itu, sesungguhnya tidak ada yang harus dibingungkan. Juga tak perlu terkejut.

Mengapa? Karena yang “diwajibkan” mendukung dan memilih MA adalah 500 ulama yang hadir di acara silaturahim itu saja. Kiyai di luar itu tidak wajib. Apalagi orang awam. Begini kata KH Nur Muahammad Iskandar SQ (KNMI) seperti dikutip salah satu media online: “Jadi adalah wajib hukumnya kita para kyai atau ulama mendukung kyai untuk menjadi pemimpin nasional.”

Jelas dan tegas. Kiyai Nur Muhammad Islandar mengatakan banya kiyai dan ulama yang wajib mendukung. Sama sekali tidak disebut yang bukan kiyai atau ulama juga wajib.

Ucapan KNMI itu diperjelas oleh komentar Kiyai Abuya Muhtadi Dimyathy (KAMD). Beliau ini mengatakan, sebagaimana juga dikutip oleh media online yang sama, agar para ulama yang hadir sama-sama menjalankan ittifaqul ulama.

Kiyai Muhtadi mengatakan, “Kepada ulama jangan diubah. Saya punya saudara namanya Kyai Ma’ruf Amin yang dipilih Pak Jokowi untuk mendampinginya. Agar para ulama bisa memilih Kyai Ma’ruf.”

Juga sangat jelas. KAMD hanya meminta supaya para ulama memilih KMA. Beliau tidak menyebutkan masyarakat atau umat wajib mendukung maupun memilih Ma’fud Amin.

Sekali lagi, hanya para ulama dan kiyai yang wajib mendukung dan memilih KMA. Maknanya, orang awam tidak disebut wajib memilih Kiyai Ma’ruf di pilpres 2019 nanti.

Jadi, orang biasa seperti saya (atau mungkin juga Anda), tidak wajib mendukung dan memilih Kiyai Ma’fuf Amin.

Kalau ada pertanyaan, apakah yang saya bahas ini hanya soal metaforik belaka? Sama sekali tidak. Saya hanya menjelaskan logika di balik kalimat-kalimat yang diucapkan Kiyai Nur Muhammad Iskandar dan Kiyai Abuya Muhtadi Dimyathy.

[by: Asyari Usman, Penulis adalah wartawan senior]

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here