*LOGIKA ‘SUKA SUKA KAMI*

162

PILARBANGSA.COM, Jakarta – Coba perhatikan hubungan kasualitas berikut ini. Coba temukan, adakah hubungan tingkat ketegasan penegakan hukum dengan posisi seseorang dihadapan penguasa.

Dahnil diperiksa penyidik, Yakult tidak diperiksa. Padahal, Yakult juga terima duit dari kemenpora, lebih gede dari dahnil. Ketika ditanya ihwal pembedaan perlakuan, penyidik menjawab : *SUKA SUKA KAMI*.

Jika ini benar, mungkinkah logika ini yang diterapkan pada beberapa kasus yang heboh di negeri ini ? Contoh : papah terima duit e KTP. Puan Puteri Maharani dan Ganjar Pranowo juga terima duit e KTP. Kenapa tidak diproses semua ? Jawabnya : SUKA SUKA KAMI*.

Kasus korupsi PLTA Riau, disebut libatkan banyak oknum Golkar. Tapi yang diciduk hanya Idrus Marham, bahkan ada yang rame-rame kembalikan duit ke KPK. Kenapa tidak diproses semua ? Jawabnya : SUKA SUKA KAMI*.

Kasus bank Century itu hanya berhenti pada aktor partisan, aktor kelas teri. Tidak menyentuh aktor intelektual, tidak merambah aktor dependen yang mengatur seluruh urusan. Kenapa tidak diproses semua? Jawabnya : SUKA-SUKA KAMI*.

Kasus BLBI setali tiga uang dengan kasus Century. Sama-sama mega korupsi, sama-sama melibatkan banyak tokoh dan politisi. Sama-sama menggarong uang rakyat untuk biaya politik. Kasus ini hanya berhenti pada aktor partisan, aktor kelas teri. Tidak menyentuh aktor intelektual, tidak merambah aktor dependen yang mengatur seluruh urusan. Kenapa tidak diproses semua? Jawabnya : SUKA-SUKA KAMI*.

Ketika masjid di inteli, dicurigai, bahkan langsung dilabeli terpapar radikalisme. Kenapa gereja tidak di periksa ? Kenapa vihara tidak diinterogasi ? Kenapa semua tudingan hanya dialamatkan kepada umat Islam ?Jawabnya : SUKA-SUKA KAMI*.

Kalau semua logika berbangsa dijawab dengan argumen : SUKA SUKA KAMI. Baiklah, kami juga akan mengajukan argumen yang sama. Tidak perlu argumentasi politik dan intelektual apalagi argumentasi syar’i.

Kenapa umat Islam jengah dengan rezim Jokowi ? Kenapa umat Islam tidak mau melihat prestasi Jokowi ? Kenapa umat Islam tidak mau merapat pada Jokowi padahal Jokowi telah berkunjung ke banyak pesantren*  *Jawabnya : SUKA SUKA KAMI*.

Kenapa umat Islam ngotot inginkan syariat ? Kenapa umat Islam hanya ingin diatur dengan aturan yang berasal dari Allah SWT ? Kenapa umat Islam tidak mau tunduk pada hukum warisan penjajah Belanda ? Jawabnya : SUKA SUKA KAMI*.

Kenapa umat Islam tetap Reuni 212 ? Padahal menkopolhukam, humas Polri, SAS bahkan hingga Ma’ruf Amin, mengumbar ujaran tidak relevan aksi reuni 212. Kenapa umat Islam tetap terus Istiqomah mengadakannya ? Jawabnya : SUKA SUKA KAMI*.

Kenapa tetap aksi bela tauhid ? Padahal pelaku pembakar bendera tauhid telah divonis bersalah, dengan pidana 10 hari dan denda 2000 rupiah. Lantas apalagi yang dituntut ? Bukankah proses hukum sudah dilakukan ? Jawabnya : SUKA SUKA KAMI*.

Jika hukum terbukti ditegakkan hanya kepada lawan politik, tajam terhadap umat Islam tapi tumpul kepada penista agama. Maka, baiklah kita berjalan dengan logika kita masing-masing.

Kalian punya kekuasaan, terserah ! Lakukanlah sekehendak hati kalian. Tapi ingat, jangan ikut mengatur dan memaksakan pilihan jalan perjuangan kami.

Sekedar untuk diketahui, kami umat Islam tidak terima kalian menyakiti putra-putra terbaik kami, menyakiti para ulama kami, mengkriminalisasi aktivis kami, mengkriminalisasi ajaran dan simbol Agama kami.

By: Nasrudin Joha*

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here