Maklumi Saja, SBY Pasang Dua Kaki Demi AHY

113

PILARBANGSA.COM, Jakarta – Ada yang memberitakan bahwa Partai Demokrat (PD) bermain dua kaki karena ada instruksi ketua umumnya, Pak SBY. Sebelum itu ada berita yang menyebutkan bahwa sembilan Dewan Pimpinan Daerah (pengurus provinsi) PD diberi keistimewaan untuk tidak mendukung koalisi dengan Prabowo Subianto (PS).

Barangkali inilah yang disebut orang bahwa SBY itu adalah seorang ahli strategi politik yang sangat hebat. Tetapi, sebanarnya SBY melakukan itu bukan karena kehebatan dia. Tetapi karena kegalauan beliau. Bagaimana tak galau, Pak SBY sudah membayangkan konstelasi politik pilpres 2024.

Pilpres 2024 adalah target beliau agar putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bisa punya peluang besar untuk menjadi presiden. Peluang itulah yang hari ini menjadi tak jelas karena jalan AHY menuju ke sana tersumbat. Buntu.

Buntu, karena AHY tidak bisa mempromosikan dirinya lewat posisi cawapres 2019. Di kubu Jomowi tak diterima, di kubu Prabowo terpental. Padahal, dia sangat memerlukan namanya tetap “floating” di media mainstream dan media sosial. Hanya lewat posisi cawapres pada saat sekarang inilah, nama AHY bisa terus mengisi ruang publik.

Apalagi dia bersama capresnya menang pula. Semakin mantaplah di pilpres 2024. Tak menang saja pun, kalau posisi AHY hari ini cawapres, dia pastilah punya semacam “credential” yang akan memperkuat dirinya di pilpres 2024 itu.

Sekarang, langkah terbaik yang bisa dilakukan SBY untuk mempertahankan AHY di pertarungan pilpres enam tahun lagi adalah dengan taktik dua kaki. Ada di kubu Jokowi dan setengah hati di kubu Prabowo. Kacaunya, SBY masih yakin Jokowi bisa menang tahun depan. Karena itu, dia belah Partai Demokrat (PD) menjadi dua, tanpa malu-malu.

Kalau Jokowi menang, menurut hayalan SBY, maka AHY bisa menjadi menteri. Lumayan. Menteri ‘kan bisa sering muncul di publik. Sampai menuju pilpres 2024. Sedangkan menurut logika orang banyak, insyaAllah, Prabowo-lah yang akan menjadi presiden.

SBY diliputi keraguan. Seperti biasanya. Jadi, harus mondar-mandir diantara dua kubu itu.

Padahal, di kubu mana pun SBY mengkhusyukkan diri, AHY tetap berada di jalan buntu menuju pilpres 2024. Karena, di sana akan ada Sandiaga Uno yang telah menunjukkan kapabilitas, kapasitas, dan fleksibilitas. Dia sukses sebagai wagub DKI dan sekarang berposisi sebagai cawapres, yang InsyaAllah akan menjadi wapres.

Kemudian ada Anies Baswedan (AB) yang akan menyandang predikat “the best ever governor of Jakarta” (gubernur terbaik). Di pilpres 2024, AB ada di pertengahan periode kedua. Sangat matang dan “well-equipped” (bersenjata pamungkas) untuk maju menjadi capres. Pada waktu itu, AHY menjadi tak kelihatan. Terlindung oleh Sandi dan Anies.

Inilah yang dirisaukan Pak SBY. Usia semakin bertambah. Kepercayaan publik pada PD semakin luntur. Cara berpikir masyarakat akan semakin canggih.

Rakyat tak lagi melihat SBY sebagai negawaran (i.e. memikirkan negara), melainkan sebagai “dinastiawan”, yang bisa diartikan sebagai “penggemar dinasti” atau bisa juga bermakna “dinasti di atas awan”.

Galau. Ambisi untuk berdinasti terbayang akan kandas. Pikiran menjadi kacau. Strategi pun menjadi balau.

Jadi, mohon dimaklumi saja kalau Pak SBY pasang dua kaki. Harus berpura-pura ke sana dan berbasa-basi ke sini.

(Penulis adalah wartawan senior)

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here