MUI: Yahya Staquf Tak Pahami Penderitaan Rakyat Palestina

245
PILARBANGSA.COM, Jakarta – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’aruf Amin menilai kepergian Katib Aam (Sekjen) Suriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf ke Israel merupakan tanggung jawab pribadi dan tak ada kaitannya dengan negara, maupun MUI dan PBNU.
 
Ma’ruf belum dapat menilai keuntungan atau kerugian yang didapat dari kepergian Yahya ke Israel.
 
“Itu tanggung jawab sendiri,” kata Ma’aruf di Gedung MUI, Jakarta, Selasa (11/6).
Yahya Staquf diundang menjadi pembicara dalam lokakarya berskala internasional yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) di Israel. Mengutip NU Online, Yahya mengatakan alasan kehadirannya di Israel untuk Palestina.
 
“Saya berdiri di sini untuk Palestina. Saya berdiri di sini atas dasar bahwa kita semua harus menghormati kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka,” kata Yahya.

Ma’aruf berpendapat meski Yahya bermaksud baik memperjuangkan Palestina, MUI tetap tak bisa memberi dukungan. Ma’aruf mengatakan upaya diplomasi sebaiknya dilakukan oleh pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bukan oleh perorangan.
 
“Apakah memperlancar upaya Kemenlu atau justru memperburuk. Tetapi sebenarnya diplomasi yang kami inginkan melalui Kemenlu secara resmi,” kata Ma’aruf.
 
Ma’aruf menyerahkan sepenuhnya persoalan kepergian Yahya ke Israel ke PBNU.
 
“Di MUI tidak ada hak untuk menindak, itu nanti PBNU,” katanya.
MUI: Yahya Staquf Tak Pahami Penderitaan Rakyat PalestinaKetua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
 
Tak Paham Penderitaan Rakyat Palestina
 
Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas menyayangkan kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel. Yahya dinilai tak memahami sikap pemerintah yang baru saja menangguhkan visa bagi turis Israel sebagai protes atas aksi tentara Israel yang menewaskan lebih dari 120 warga Palestina di jalur Gaza.
 
“Yang bersangkutan tidak memahami sikap dan jati diri bangsa Indonesia. Dia juga tidak memahami penderitaan rakyat Palestina,” ujar Anwar kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/6).
 
Pidato yang disampaikan Yahya saat kunjungan itu pun, menurut Anwar, lebih mengutamakan kepentingan politik Israel daripada membela rakyat Palestina.
 
Dalam pidatonya, Yahya menyebut bahwa penderitaan rakyat Palestina juga menjadi kekalutan bangsa Arab dan kegalauan dunia Islam. Yahya yang juga Katib Aam Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) ini menyebut penderitaan Palestina juga menjadi keresahan Israel dan kegamangan dunia barat.
 
“Kalau didengar secara utuh, ceramahnya lebih banyak mengutamakan kepentingan politik Israel. Lemah sekali pembelaannya terhadap Palestina,” katanya.
 
Meski diklaim atas nama pribadi, Anwar menilai kunjungan itu tak etis mengingat jabatan Yahya sebagai anggota wantimpres. Ia khawatir kunjungan Yahya akan dimanfaatkan oleh pemerintah Israel untuk menyampaikan aspirasi mereka ke Indonesia.
 
Mengutip pernyataan Presiden RI ke-1 Sukarno yang menyatakan jika ada negara lain yang memuji maka ketahuilah di balik itu ada maksud lain yang mungkin merugikan negara sendiri.
 
“Jadi kalau pakai logika Sukarno, dia (Yahya) dipuji di sana, dilayani dengan baik, ketahuilah bahwa mereka punya keyakinan (Yahya) bisa membawa aspirasi Israel ke Indonesia,” ucap Anwar. “Dengan dia datang ke Israel itu juga menjadi poin politik bahwa orang Indonesia mendukung Israel,” imbuhnya.
 
Anwar mengatakan Yahya perlu meminta maaf secara terbuka karena dianggap telah menyakiti rakyat Indonesia dan tak mengacuhkan sikap politik Indonesia dengan pemerintah Israel. Sementara secara pribadi, Anwar menilai Yahya harus dipecat dari jabatannya sebagai anggota wantimpres.
 
“Ya dia perlu minta maaf, pemerintah Pak Joko Widodo dan menteri luar negeri selama ini sudah tegas. Tapi dengan dia ‘bermesraan’ di Israel, politik luar negeri pemerintah menjadi terganggu,” tuturnya. (cnn/red)

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here