Nasionalisasi Tanah Konglomerat

210

PILARBANGSA.COM, JAKARTA – Di tengah kuatnya ketimpangan soal keadilan kepemilikan tanah, Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Hafid Abbas meminta pemerintah mengambil sebagian besar tanah yang dikuasai konglomerasi besar di Indonesia. Tanah itu harus dibagikan kepada kelompok masyarakat miskin.

Dia menyebut ada perusahaan yang didirikan pengusaha keturunan Tionghoa memiliki tanah 5 juta hektar. Bagi Hafid, tak ada alasan bagi seorang pengusaha menguasai tanah seluas itu.

“Jadi 5 juta hektar tanah yang dimiliki satu orang itu boleh digusur, diambil sebagian oleh negara, dan dibagi ke kelompok miskin, yang sekarang ini Sinarmas memiliki 5 juta hektar,” kata Hafid beberapa waktu lalu.

Berdasarkan laporan Bank Dunia pada 15 Desember 2015, Hafid menyebutkan, sebanyak 74% tanah di Indonesia dikuasai oleh 0,2% penduduk. Termasuk penguasaan lahan 5 juta hektar oleh taipan yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya pertama di Indonesia.

Idealnya distribusi tanah mengikuti formula 1 juta untuk orang kaya, 2 juta untuk kelas menengah, dan 3 juta untuk masyarakat miskin.

Bagi Komnas HAM, distribusi tanah yang terjadi saat ini menunjukkan negara telah dimiliki sekelompok kecil penduduk. Sementara orang miskin tidak memiliki celah untuk keluar dari kemiskinannya karena mereka tidak mempunyai tanah.

“Pengalaman di Afrika Selatan, 5% penduduk kulit putih menguasai 50% tanah, negaranya bubar. Kita 0,2% penduduk menguasai 74% tanah. Inilah satu distribusi lahan paling ekstrim di dunia,” ujar Hafid.

Penguasaan lahan oleh kelompok kecil penduduk ini berimbas pada maraknya penggusuran di beberapa kota, termasuk di Jakarta.

Jadi, sampai di sini baru kita paham apa kritikan Amien Rais bahwa program bagi-bagi sertifikat itu ngibul, ada benarnya. Tinggal kita sulit memahami ancaman Luhut soal dosa Amien Rais, sebab kalau mau dibuka justru lebih banyak dosa Luhut. Jadi masih ada aroma ancam-mengancam pada masa Orde Baru.[]

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here