Pencopotan Dua Bos Pertamina, Ada Ari di Belakang Rini

244
Ari Soemarno disebut-sebut berada di belakang pencopotan dua Direktur Utama PT Pertamina (Dwi Soetjipto dan Elia Massa Manik) oleh Menteri BUMN Rini Soemarno.

PILARBANGSA.COM, Jakarta – Hebohnya rekaman percakapan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, beredar di dunia maya.

Percakapan tersebut diunggah oleh akun instagram @om_gadun dalam bentuk video yang kemudian diisi suara rekaman tersebut. Akun tersebut memberi caption ‘Dashyaaatttt…!!!! Mau kelanjutannya? Om butuh 1000 likes #MafiaMigas #RIwayatpertaminakiNI’.

Pantauan di Twitter, akun @digembok kemudian turut mengunggah rekaman tersebut dan menulis “Gue nemu rekaman ini. (part 1) cc: @KPK_RI Suaranya Rini dengan Sofyan Basir Dengerin Yuk Ngomongin Persen-persenan#RIwayatpertaminakiNI,” tulis akun dengan jumlah follower 90 ribu ini.

Dalam isi rekaman tersebut, terdengar Rini Soemarno dan Sofyan Basir tengah serius membahas soal fee proyek. Dalam perbincangan keduanya juga menyeret nama Ari Soemarno, kakak Rini Soemarno dalam proyek yang mereka bahas. Berikut isi rekaman percakapan Rini Soemarno dan Sofyan Basir:

“Saya juga kaget kan Bu, saya mau cerita ke Ibu, beliau (Pak Ari) kan panggil saya, pagi kemarin kan saya baru pulang,” ucap Sofyan.

“Yang penting ginilah, sudahlah, kan yang harus ambil kan dua, Pertamina sama PLN.” Rini menjawabnya.

“Betul,” timpal Sofyan.

“Ya, dua-duanya punya saham lah Pak, begitu,” sambung Rini lagi.

“Waktu itu saya ketemu Pak Ari juga, Bu. Saya bilang ‘Pak Ari mohon maaf, masalah shareini kita duduk lagi lah, Pak Ari,” lanjut Sofyan.

“Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama-sama Pak Sofyan,” balas Rini.

“Saya kemarin bertahan, Bu, kan beliau ngotot. ‘Kamu gimana sih, Sof?’ Lho kan, Pak, kalo enggak ada PLN kan Bapak enggak ada juga tuh buat bisnis,” respon Sofyan.

“Kan saya ketemu Pak Ari juga, Bu.” Tambahnya.

Rini kemudian membalas. “Menurut saya banyak yang nerusin, cuma saya bilang sama kakak saya yang satunya, biasanya kalau dia sudah enggak mau ngomong, saya ngomong sama yang satunya supaya nyambung ke sana gitu kan.”

“Betul, betul,” timpal Sofyan.

Itu hanya sebagian percakapan di antara kedua pejabat tersebut. Namun yang perlu dicermati, adanya permainan proyek di tubuh Pertamina dan PLN sudah menjadi rahasia umum. Apalagi jika dalam proyek tersebut melibatkan nama-nama orang besar seperti Ari Soemarno dan Riza Chalid. Keduanya dikenal sebagai makelar atau mafia minyak paling kakap di negeri ini. Selama ini kedaulatan energi dikendalikan keduanya.

Apa yang dicita-citakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam membersihkan mafia ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus. Para mafia itu hingga kini sangat leluasa mengatur urusan negara. Ada kesan mereka membuat ‘negara dalam negara’, sehingga urusan rakyat urusan belakangan.

Pencopotan dua Dirut Pertamina

Pencopotan dua Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dan Elia Massa Manik diduga tidak lepas dari peran Ari Soemarno. Muncul isu Sofyan Basir yang bakal menempati jabatan Dirut Pertamina. Padahal sosok Sofyan Basir juga tidak ‘bersih-bersih’ amat.

Dalam kasus kontrak proyek PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) menggunakan 5 kapal pembangkit listrik terapung milik perusahaan asal Turki, Kapowership Zeynep Sultan, Dirut PT PLN Sofyan Basir diduga telah melakukan kejahatan mark up yang merugikan negara hingga Rp130 triliun.

Dilihat dari rekaman Rini Soemarno dan Sofyan Basir dalam mengatur fee proyek, sangatlah beralasan jika muncul isu Sofyan Basir kandidat Dirut Pertamina. Sebab Sofyan tampaknya bisa melayani ritme permainan Rini Soemarno dan Ari Soemarno. Hal ini jelas berbeda jauh dengan Dwi Soetjipto dan Elia Massa Manik.

Selama menjabat, Dwi memiliki harapan besar untuk membangun Pertamina sebagai BUMN yang sehat, transparan dan akuntabel. Namun karena kalah dalam intrik di Pertamina, terutama oleh Ari Soemarno, dia pun harus dilengserkan.

Ari Soemarno yang pernah menjabat mantan Dirut Pertamina (2006-2009), hingga kini diyakini masih memiliki pengaruh kuat dalam membentuk polarisasi di tubuh Pertamina. Belum lagi sang adik (Rini Soemarno) kini menjabat Menteri BUMN.

Banyak sumber menyebut, Ari berada di balik skenario pencopoton Dwi. Maklum, selama ini Ari selalu menjadi pihak diuntungkan dalam setiap pergantian direksi. Ari dipercaya mempunyai pengaruh kuat dalam permainan impor minyak di Integrated Supply Chain(ISC). Dari ISC inilah kedaulatan negara dikendalikan.

ISC menjadi penjaga supply minyak dan juga tanpa disadari menjadi gantungan hidup jutaan rakyat Indonesia. Untuk memperkuat ISC maka ia harus menarik Petral ke dalam kendalinya. Jaringan Sudirman Said dimanfaatkan untuk memperkuat citra ISC sebagai penggebuk Petral dan mengelabui publik bahwa ISC menjadi bagian dari upaya restrukturisasi perusahaan Pertamina. Penghancuran Petral sangat penting agar posisi ISC sebagai makelar minyak Pertamina bisa dikuasai.

Namun saat Dwi hendak mengembalikan Pertamina dalam khittah-nya sebagai perusahaan minyak nasional yang bertanggung jawab terhadap jutaan rakyat Indonesia dan memberangus perdagangan rente, jabatannya malah dicopot. Hal ini disebabkan ruang gerak Ari Soemarno menjadi sempit.

Puncaknya terlihat saat Dwi menolak pengajuan impor 2 juta barel minyak jenis Mesla-Sarir dan mencoret Glenncore sebagai pemasok ke Pertamina. Ari Soemarno marah, dan meminta Rini untuk mencopot Dwi. Konflik perusahaan pun diciptakan dengan Rini mengangkat Ahmad Bambang sebagai Wadirut Pertamina. Padahal bila melihat kinerja Dwi Soetjipto, dia sukses membawa Pertamina mencetak laba sekitar US$2,5 miliar atau Rp42 triliun, mengalahkan Petronas yang hanya mencetak keuntungan US$1,6 miliar atau Rp36 triliun.

Pengganti Dwi, yakni Elia Massa Manik juga tidak memberi ruang gerak bagi Ari Soemarno. Pertama menjabat, Elia melihat cadangan minyak Indonesia hanya cukup 10 sampai 15 tahun. Artinya Pertamina harus mencari cadangan minyak baru di seluruh penjuru Nusantara. Maka, eksplorasi menjadi politik utama kebijakan besar di Pertamina, termasuk mengurangi impor minyak.

Ekspansi ke ladang-ladang minyak baru harus segera dilakukan, termasuk menjaga aset-aset Pertamina di 12 negara seperti Malaysia, Algeria, Irak, Perancis, Italia, Kanada, Gabon, Tanzania, Kanada, Myanmar, Namibia dan Kolombia.

Elia terbukti sukses membuat road map strategy kedaulatan energi. Dia berhasil mempertahankan laba kotor hingga Rp70 triliun di tengah badai harga minyak. Ini menunjukkan kemampuan efisiensi manajemen di tubuh Pertamina.

Maklum, dalam program road map strategy tersebut, fokus Elia adalah soal energi terbarukan, dan secara cepat pula di masa kepemimpinannya masuklah geothermal, biodiesel, biomass, mini hydro dan solar PV. Selain itu, di balik program road map strategyjuga tersimpan langkah penting meniadakan peran calo-calo minyak impor yang berkumpul di ISC.

Inilah yang membuat Ari dan Rini terganggu. Kasus tumpahan minyak di Balikpapan menjadi alasan pencopotan Elia Massa Manik. Padahal itu hanya kejadian force majeuryang operasi pemberesan bisa dilakukan dengan cepat. Juga, kasus kelangkaan premium di Jawa, Madura dan Bali dipersoal. Padahal dalam Perpres Nomor 191/2014, Pertamina tak diwajibkan jual BBM Premium di Jawa Madura dan Bali.

Pencopotan dua bos Pertamina selama tiga tahun Rini Soemarno menjabat Menteri BUMN disorot Wakil Ketua Komisi VI, Inas Nasrullah Zubir. Menurutnya pemberhentian Elia bukan disebabkan BBM langka ataupun tumpahan minyak. Pencopotan itu atas dasar suka dan tidak sukanya Menteri Rini kepada direksi BUMN. Selain itu, Elia sempat menuding adanya dorongan dari sang kakak, Ari Soemarno yang tidak suka dengan kepemimpinan Elia.

“Ari Soemarno merupakan orang yang berada di balik proyek Banten Terminal Regasifikasi yang digagas Tokyo Gas, Mitsui dan Bumi Sarana Migas,” ujar Inas.

Dia menjelaskan proyek tersebut memang dibangun sebelum kepemimpinan Elia. Namun Elia menganggap proyek ini hanya sia-sia. Sehingga, tak serius untuk garap proyek Banten. Alhasil, hingga saat ini proyek tersebut masih molor. Terminal ini diperkirakan selesai pada 2019 bakal molor hingga 2020. Proyek tersebut, kata Inas, merupakan ajuan dari Ari Soemarno. “Jadi Bukan karena BBM langka ataupun tumpahan minyak di Balikpapan penyebab sebenarnya Elia Massa dicopot.”

Kritikan juga datang mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli. Menurut Rizal, kebijakan Rini Soemarno adalah kombinasi dari tidak mengerti permasalahan dengan konflik kepentingan yang disebut-sebut melibatkan Ari Soemarno. “Yang paling berbahaya adalah kombinasi “tidak mengerti masalah” dengan “konflik kepentingan (KKN)”.

Rizal juga menilai jika selama ini rakyat, negara bahkan hingga BUMN dirugikan demi keuntungan pihaknya semata. “Apapun akan dikorbankan, ndak peduli Rakyat, Negara, BUMN dirugikan — yang penting yang bersangkutan untung. Kepiye kebangetan,” kecam Rizal.

Namun isu pencopotan yang diduga melibatkan peran Ari Soemarno dibantah oleh yang bersangkutan. Melansir aktual.com, Ari mengklarifikasi keterlibatannya dalam pencopotan Dirut Pertamina. Ari merasa menjadi korban fitnah oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Ngapain kasih klarifikasi. Jelas itu bukan news dan ditulis di kompasiana yang merupakan tulisan orang gak jelas yaitu ghostwriter. Namanya aja ghostwriter atau penulis setan, jadi ngapain ditanggapin, nanti kita sama sama jadi setan. Selama ini sudah sering saya dan keluarga saya diserang/difitnah seperti itu, tapi ini yang paling brutal, bohong dan kalap,” sesalnya.

Makelar impor minyak

Selama menjabat Dirut Pertamina, Dwi mengaku tidak bisa lepas dari bayang-bayang broker ( makelar) yang mengaku bisa memuluskan negosiasi bisnis dengan perusahaan pelat merah tersebut.

Dua tahun memimpin Pertamina, Dwi mengaku telah berupaya menutup peluang praktik percaloan melalui jasa perantara. Baik dalam kerja sama investasi maupun jual beli minyak dan gas bumi (migas) dengan investor dari luar, seperti National Oil Company (NOC) maupun perusahaan swasta. Namun upaya penghapusan bisnis rente mantan bos PT Semen Indonesia Tbk itu malah berujung pada pencopotan dirinya.

“Ada banyak pihak yang ingin mencari rente dari bisnis migas Pertamina. Termasuk waktu saya ke Teheran, Iran kemarin itu untuk kerja sama dengan NIOC (National Iranian Oil Company). Ada pihak ketiga yang menawarkan bantuan kepada NOC itu untuk bekerja sama dengan Pertamina,” ujar Dwi saat itu.

Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy pernah diberitahu besaran keuntungan para pemburu rente impor minyak. Dia menyebut keuntungan pemburu rente yaitu 2 dollar AS per barrel.

Sementara posisi Pertamina yang tidak hanya sebagai produsen minyak dan gas (migas), tapi juga importir minyak. Saat ini produksi minyak Indonesia adalah 850.000 barrel per hari. Adapun kebutuhan di dalam negeri mencapai 1,4 juta barel per hari. Setiap hari Pertamina membutuhkan sekitar 400.000 barel minyak mentah untuk diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM), dan 400.000 barel dalam bentuk BBM.

Untuk impor minyak mentah sepanjang 2017 menyentuh angka 140 juta barel atau lebih tinggi 5% dari realisasi impor 2016 sebanyak 134 juta barel. Impor minyak itu didatangkan dari beberapa negara seperti Arab Saudi 39 juta barel, Afrika 18 juta barel, Asia mencakup Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam dengan volume 60 juta barel dan Mediterania sebesar 32 juta barel. Nah, jika impor BBM 400.000 sampai 550.000 barel (per hari) tinggal dikalikan saja (2 x 550.000 = 1.100.000 dollar AS per hari atau sekitar Rp 12,87 miliar per hari).

Keuntungan 2 dollar AS per barrel tersebut terjadi pada masa pemerintahan Soeharto. Sementara untuk saat ini, keuntungan mengimpor minyak relatif menurun tinggal sekitar 25-30 sen dollar AS per hari. Meskipun menurun, keuntungan impor minyak masih sangat besar karena kebutuhan BBM impor semakin besar. Hal itulah yang menurut bisnis rente impor minyak cukup menggiurkan.

Peran mafia migas mampu bertahan sejak masa Soeharto adalah karena mereka mampu meletakkan orang-orangnya dalam posisi strategis di pemerintahan. Dengan begitu muncullah kebijakan atau peraturan-peraturan yang membuat praktek mafia dalam sektor migas terus bertahan. Dari situ terbentuk margin yang bisa dibagi-bagi. Sebaliknya, apabila mereka salah menempatkan orang-orang yang berlawanan arah, maka itu akan menjadi bencana bagi mereka. Pencopotan dua bos Pertamina menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh pemburu rente minyak di pemerintahan. Dan seperti mengutip kata-kata Henry Kissinger: control oil and you control nations, control food and you control the people.[NN]

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here