Stigma Radikal, Cara Musuh Islam Membungkam Ulama di Tanah Air

77
Photo: Unjuk Rasa Ormas di depan kantor walikota Bogor

PILARBANGSA.COM, Jakarta – Bila dalam dunia politik kita biasa mendengar istilah “black campaign” kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan melalui isu-isu negatif, maka dalam dunia adu argumentasi (debat) kita juga biasa mendengar istilah Character Assassination atau Pembunuhan Karakter. Dua istilah ini memang berbeda, namun keduanya memiliki karakter yang sama, yaitu sama-sama memiliki upaya jahat untuk menyerang pribadi atau karakter seseorang ketika tidak mampu lagi menandingi atau membantah argumentasi yang ditujukan kepadanya.

Caranya pun beragam, terkadang dilakukan dengan menunjukkan sifat negatif, menyebarkan berita-berita miring, atau memfitnah orang yang berlawanan arah dengannya. Berikutnya, fitnah itu pun dibungkus dengan kecanggihan teknologi media dan komunikasi massa sehingga sosok yang menjadi target benar-benar terjebak dalam situasi ’seolah-olah benar’ atas semua fitnah yang disebarkan. Harapannya, kredibilitas penyampai pesan hancur dan apapun yang disampaikannya menjadi tidak bernilai lagi di hadapan masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu santer isu penceramah radikal. Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkapkan sedikitnya ada 50 penceramah yang terpapar radikalisme di DKI Jakarta. Temuan ini didasarkan pada hasil survei yang diadakan oleh Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat Nahdatul Ulama (P3M NU) di 100 masjid yang ada di lingkungan pemerintah di DKI Jakarta.

Sejak dimulainya War on Teror oleh Amerika, kita mendapati bahwa pelan tapi pasti beberapa istilah-istilah Islam mulai dikriminalisasi. Yang paling pertama adalah syariat jihad, kata jihad mulai distigma negatif, setelah itu diberikan penafsiran-penafsiran lain. Sehingga lama kelamaan umat Islam menjadi asing dengan kata jihad dan para daipun berpikir panjang untuk berbicara jihad di hadapan para jamaahnya.

Dan yang gencar hari ini adalah stigmatisasi negatif terhadap khilafah. Pada hakikatnya khilafah adalah upaya untuk membumikan ajaran Allah di muka bumi, namun stigma negatif terus dilancarkan terhadap ajaran Islam ini. Mulai dari pemecah belah negara dan stigma-stigma negatif lainnya.

Kurang lebih begitulah cara halus yang mereka mainkan untuk menghadang dakwah para ulama. Ketika argumentasinya tidak mampu lagi mereka bantah, maka yang diserang adalah kepribadiannya. Tuduhan dan fitnah yang menjatuhkan reputasinya pun menjadi senjata ampuh untuk dimainkan. Julukan ustad ekstrim, radikal, anti pancasila, mendukung teroris, mengancam kebhinekaan dan sebagainya bertujuan agar mereka dijauhi oleh masyarakat.

Cara Musuh Membungkam Dakwah Para Ulama

Kesesatan logika seperti ini sebenarnya bukanlah perkara asing yang dihadapi oleh para da’i dalam menyampaikan kebenaran. Bila kita berkaca kepada sejarah, pola seperti ini ternyata biasa digunakan oleh musuh-musuh Islam dalam menghadang dakwah para ulama. Pada masa penjajahan Belanda misalnya, saat pasukan Belanda kewalahan melawan para pejuang muslim Indonesia, maka mereka melakukan labelisasi kepada lawannya (umat Islam) dengan tuduhan negatif.

Pada tahun 1928, Mohammad Hatta berpidato dengan bahasa Belanda yang berjudul FreeIndonesia, mengkritik pemerintah Belanda saat itu yang memaksa para pemuda Indonesia untuk menyebut para pahlawan sendiri sebagai pemberontak, pengacau dan penjahat. Mohammad Hatta berkata, “Pemuda Indonesia juga dipaksa menjuluki pahlawan sendiri, seperti Diponegoro, Toeankoe Imam, Tengku Oemar dan banyak lainnya, sebagai pemberontak, pengacau, penjahat, dan sebagainya.”

Demikian juga setelah Indonesia merdeka, sejarah bangsa kita juga banyak mencatat perilaku para penguasa yang hendak menjauhkan para ulama dari masyarakat. Di antara contoh yang paling nyata adalah apa yang dialami oleh Buya Hamka, beliau sempat difitnah sebagai pengkhianat bangsa yang kemudian berujung hingga ke jeruji besi. Demikian juga yang dialami oleh sejumlah tokoh-tokoh besar Islam lainnya seperti Muhammad Natsir, KH. Isa Anshori, Syafrudin Prawiranegara, Tengku Daud Beureueh dan seterusnya, mereka semua dipenjara tanpa melalui proses pembuktian di pengadilan.

Berikutnya bila kita flashback sejarah para ulama salaf dalam menyampaikan dakwah, ternyata cara-cara musuh untuk membungkam suara mereka hampir selalunya sama. Ketika argumentasinya kalah, maka yang diserang adalah pribadinya. Sa`id bin al-Musayyib, seniornya para ulama tabi’in, dituduh membuat makar karena menolak baiat kepada putra Abdul Malik sebagai khalifah lalu dikriminalisasi dan dipenjara, Imam Syafi`i dituduh sebagai pendukung Syi`ah hingga beliau digiring ke penjara. Nasib yang sama juga dialami oleh Imam Ahmad, ketika perbebatan tentang kalamullah tak mampu dikalahkan, maka beliau pun dituduh sesat dan asingkan dalam penjara. Demikian juga dengan Ibnu Taimiyah, beliau terpaksa mendekam di balik jeruji besi hingga meninggal karena dituduh meresahkan masyarakat.

Karakter Dakwah Para Nabi

Sudah menjadi sunnatullah, karakter dakwah itu memang berat dan penuh ujian dan ini mesti dipahami oleh setiap da’i. Risalah dakwah yang dibawa para nabi memang sulit dibantah dengan argumentasi yang sehat. Karena itu, para penentang dakwah ini tidak memiliki cara lain selain membunuh karakter pribadi para pembawa risalah tersebut. Makanya tidak heran bila hampir seluruh para nabi dituduh sebagai tukang sihir, gila, pembohong dan sebagainya. Tujuannya satu, agar rakyat menjauh dan tidak menghiraukan dakwah mereka.

Ketika Nabi Musa mendatangi Firaun untuk menyampaikan wahyu dan kebenaran, maka terjadi sebuah dialog yang cukup panjang. Hingga akhirnya ketika Fir’aun tidak mampu lagi membantah argumentasi yang dibangun oleh Nabi Musa, maka Fir’aun mulai membangun narasi-narasi yang menyudutkan kepribadian Nabi Musa. Firaun senantiasa membuat opini bahwa pewaris Musa adalah adalah pembawa pesan yang tidak kredibel dengan menyematkan label-label negatif.

Firaun lalu menuduh Musa gila untuk menghilangkan pengaruh pernyataannya yang telah menyerang kedudukan dan wibawanya. Tidak berhenti di situ, Musa juga dituduh penyihir, duku, pembawa kekacauan dan sebagainya. Namun demikian, Musa tetap tidak terganggu dengan tuduhan Firaun dan tetap fokus menjawab pertanyaan Firaun yang sekaligus merupakan konten narasinya, dengan berkata, “(Dialah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu mengerti” (QS. Asy-Syuara: 28)

Tidak hanya Nabi Musa yang mendapat label negatif, perlakuan serupa juga dialami oleh Nabi Muhammad SAW, ketika orang-orang kafir Quraisy tak mampu lagi membantah narasi dakwah yang disampaikan oleh Nabi SAW, mereka pun mulai menyerang kepribadian nabi dengan membuat tuduhan-tuduhan palsu. Tujuannya lagi-lagi agar masyarakat menjauh dan tidak mendengar dakwah beliau. Akhirnya beliau pun dituduh sebagai penyihir, pendusta, penya’ir gila dan tuduhan-tuduhan kosong lainnya. Walaupun demikian, karena mereka yang menguasai arus informasi saat itu, maka tidak sedikit yang kemudian termakan tuduhan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tuduhan mereka dalam firman-Nya :

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta,” (QS. Shad :4)

Dalam dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah sedikit pun tidak terganggu dengan tuduhan-tuduhan tersebut. Beliau tetap fokus menyampaikan risalah dakwahnya. Bahkan beliau diingatkan oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Ad-Dzariyat : 52)

Tidak berhenti di situ, dalam ayat yang lain, secara rinci Allah Ta’ala menyampaikan tuduhan-tuduhan yang sama dialamatkan kepada para nabi sebelumnya. Kepada Nabi Nuh AS, kaumnya berkata, “Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila.” (Al Mu’minun: 25). Nabi Hud juga mengalami tuduhan yang serupa, “Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu,” (QS. Hud 54). Nabi Shalih juga dituduh oleh kaumnya sebagai penyihir, “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir’,” (QS. Asy-Syu’ara: 153) kepada Nabi Musa mereka berkata, “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta,” (QS. Ghafir: 24).

Singkatnya, pembunuhan karakter yang dimainkan oleh musuh dengan tuduhan-ruduhan palsu sudah biasa dihadapi oleh para nabi. Secara tidak langsung kabar tersebut ingin membangun karakter setiap da’I agar tetap tegar di atas jalan dakwah walaupun dituduh atau dilabelisasi macam-macam oleh musuh. Sebagai pewaris para nabi, para ulama telah mencontohkan bagaimana mereka bersikap ketika musuh membunuh karakter mereka. Dakwah itu ibarat darah dalam tubuh manusia. Dia harus terus mengalir dan melaju tidak boleh berhenti walau seketika. Mengalirnya darah menjadi tanda kehidupan, berhentinya darah berarti tanda kematian. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Fakhruddin, kiblat.net

loading...

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here